Monday, January 4, 2016

artikel oke

simbol sesungguhnya

Seperti yang kita kenal, Negara Republik Indonesia memiliki berbagai macam simbol dengan arti yang berbeda – beda. Salah satu contoh kecilnya adalah Pancasila, namun perlu diketahui bahwa simbol abadi dari negeri ini adalah “songkok hitam” yang berada tepat diatas kepala kita. Songkok atau kopiah dulu masih tergolong biasa, kemudian songkok mulai ditenarkan oleh bung karno, hal itu terbukti ketika bung karno memakai songkok saat rapat jong java disurabaya pada tahun 1921. Semangat nasionalisme dari sebuah peci dikisahkan Bung Karno kepada Cindy Adam yang kemudian dituangkannya dalam buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat.” Bagaimana kisahnya? Inilah sedikit kutipan tulisan Cindy Adams tentang bangkitnya semangat nasionalisme dari sebuah peci. Sosok pemuda itu masih berusia 20 tahun. Dia tegang. Perutnya mulas. Di belakang tukang sate, dia mengamati kawan-kawannya, yang menurutnya banyak lagak, tak mau pakai tutup kepala karena ingin seperti orang Barat. Dia harus menampakkan diri dalam rapat Jong Java itu, di Surabaya, Juni 1921. Tapi dia masih ragu. Dia berdebat dengan dirinya sendiri “Apakah engkau seorang pengekor atau pemimpin?” “Aku seorang pemimpin.” “Kalau begitu, buktikanlah,” batinnya lagi. “Majulah. Pakai pecimu. Tarik nafas yang dalam! Dan masuklah ke ruang rapat... Sekarang!” Setiap orang ternganga melihatnya tanpa bicara. Mereka, kaum intelegensia, membenci pemakaian blangkon, sarung dan peci karena dianggap cara berpakaian kaum lebih rendah. Dia pun memecah kesunyian dengan berbicara, “Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.” Ujar bung Karno Mengagumkan bukan? Kemudian Sukarno menyebut peci sebagai “ciri khas saya... simbol nasionalisme kami. Sejak saat itu, Sukarno selalu mengenakan peci hitam saat tampil di depan publik. Seperti yang dia lakukan saat membacakan pledoinya “Indonesia Menggugat” di Pengadilan Landraad Bandung, 18 Agustus 1930. Dan peci kemudian menjadi simbol nasionalisme, yang mempengaruhi cara berpakaian kalangan intelektual. Itulah awal mula Sukarno mempopulerkan pemakaian songkok. Bagaimana dengan warna hitam? Jika di Eropa warna hitam telah dimaknai sebagai kekuasaan, keberhasilan, dan kedisiplinan semenjak warna ini diadopsi oleh penguasa Burgundy, maka di era kolonialisme yang bercokol, di Tanah Air warna hitam ini dimaknai sebagai simbol solidaritas dan egalitarianisme. Songkok telah menjadi penanda identitas nasional, bukan melulu identifikasi sebagai muslim saja. Dalam pose resmi kabinet terbaru, seluruh menteri menggunakan songkok, tanpa memandang agamanya. Bahkan, Romo Mangun, budayawan dan agamawan Katolik, lebih identik dengan songkok hitamnya yang khas. Namun, fakta ini tetap tidak menghapus kesan bahwa songkok adalah bagian dari identitas muslim Nusantara, bukan hanya Indonesia, melainkan Singapura, Malaysia, dan Brunei. Ada yang berpendapat bahwa kata “songkok” berarti kosong dari mangkok. Artinya, hidup ini seperti mangkok yang kosong. Harus diisi dengan ilmu dan berkah . Sementara kata kopiah berasal dari kosong karena di pyah. Maknanya: kosong karena dibuang (di pyah). Apa yang dibuang? Kebodohan dan rasa iri hati serta dengki yang merupakan penyakit bawaan syaitan. Selain hal tersebut juga terdapat sebuah kisah menarik yang di sela-sela sidang Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pada September 1959. Saat itu Bung Karno menyatakan bahwa dia sebenarnya kurang nyaman dengan segala pakaian dinas kebesaran, tetapi semua ini dipakai untuk menjaga kebesaran Bangsa Indonesia. “Seandainya saya adalah Idham Chalid yang ketua Partai NU atau seperti Suwiryo, ketua PNI, tentu saya cukup pakai kemeja dan berdasi, atau paling banter pakai jas,” kata Bung Karno sambil melihat respon hadirin. “Tetapi soal peci hitam ini, tidak akan saya tinggalkan. Soalnya, kata orang, saya lebih gagah dengan mengenakan songkok hitam ini, benar enggak Kiai Wahab ?” tanya Bung Karno pada KH. Abdul Wahab Hasbullah, Rais Aam Nahdlatul Ulama yang juga anggota DPA itu. “Memang betul, saudara harus mempertahankan identitas itu. Dengan peci hitam itu, saudara tampak lebih gagah seperti para muballigh NU,” jawab Kiai Wahab. Pernyataan Kiai Wahab ini menyulut gelak tawa seluruh anggota DPA. Dari sini, kita melihat upaya yang dilakukan oleh Bung Karno untuk menggunakan peci hitam sebagai simbol nasionalisme Indonesia berhasil. Tapi patut diingat Peci memang khas umat Islam, namun peci juga ikon nasional. Siapa pun berhak memakai peci sebagai lambang identitas Indonesia. Inilah yang digagaskan oleh Soekarno, sang Founding Father negeri ini. luvne.com

0 comments:

Post a Comment