Sunday, September 18, 2016

cerpen santri



CAHAYA DI BALIK PESANTREN
“Mah, Pah… Aku ngga Betah di Pondok…”
“Bu, Pak… Aku ra betah nang pondok…”
Teringat memori indah masa lalu, ketika aku pijakkan kakiku pertama kali di pesantren. Saat dimana berbagai kecemasan menghantuiku. “Malam ini, adalah malam pertama aku tidak lagi tidur di bawah atap rumah, malam ini malam pertama aku tidak lagi makan masakan mamah dan aku tidak lagi makan satu meja bersama kedua orang tuaku, adikku dan kakakku…” Gerutuku dalam hati yang diiringi tetesan air mata, sembari mengantar kepulangan mamah dan ayahku di depan gerbang pondok, hingga bayangannya hilang ketika mobil yang di naiki orang tua semakin menjauhiku.
“Oh...aku sendiri” Gerutuku dalam hati
Akhiy... Ukhtiy... yang semoga dirahmati oleh Allah…
Begitulah kiranya, apa yang dirasakan oleh kebanyakan calon santri yang hendak belajar di sebuah pesantren. Dimana dia mau tidak mau harus meninggalkan rumahnya serta kampung halamannya merantau menimba ilmu. Berbagai perasaan khawatir muncul disaat tekadnya masih lemah. Dia berangkat hanya berbekal harapan orang tua. Ada rasa semangat namun masih terkalahkan oleh rasa khawatirnya. Itulah Fithrah manusia, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat Al-Ma’arij ayat ke Sembilan belas dan ke dua puluh,
“ Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah.”
Seperti itulah hati manusia, terlebih lagi anak-anak yang masih berada di dalam kehangatan kasih sayang orang tua, tiba-tiba dia harus keluar dari kehangatan kasih sayang tersebut. Namun perlu kita ketahui bahwa keberangkatan seorang santri untuk belajar di pesantren merupakan bentuk lain dari kasih sayang orang tua,kalau kita tidak betah dan meninggalkan pondok sama saja kita keluar dari kasih sayang dari orang tua bahkan kita rela melukai hati orang tua kita,mari kita fikirkan bersama..... Sehingga bisa kita kita katakana bahwa “nyantri” itu adalah keluarnya seseorang dari satu bentuk kasih sayang orang tua menuju bentuk kasih sayang mereka yang lain.
Akhiy... Ukhtiy... dirahmati oleh Allah…
Cobalah sesekali kita perhatikan wajah kedua orang tua kita ketika kita hendak berangkat ke pesantren. Tataplah wajah mereka beberapa saat, tangkaplah makna harap-harap cemas dari pandangan mereka berdua. Harapan kepada kita untuk menjadi anak yang berbakti, berbudi pekerti, beragama dan berprestasi. Tangkaplah juga kecemasan dari pandangan mereka. Kecemasan kalau-kalau kita akan menjadi anak yang –na’udzubillah- durhaka kepada mereka, ketika berangkat ke pesantren kita tidak langsung menuju ke pesantren, kita membelanjakan bekal yang berasal dari jerih payah mereka untuk hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan hal-hal yang diharamkan dalam agama. kita gunakan jerih payah mereka hanya untuk berfoya-foya menghabiskan waktu. Nas alullahal ‘aafiyah, hanya kepada Allah lah kita memohon keselamatan dan kebaikan.
Ingin sekali aku menyampaikan berbagai cerita kepada anda, tentang tangisan para orang tua yang mereka harus menerima anaknya kembali di rumah sebelum selesai masa belajarnya di pesantren. Berkali-kali aku ikut menyaksikan bagaimana proses-proses itu terjadi manakala aku mendampingi beberapa ustadz mengunjungi rumah-rumah mereka dalam keadaan orang tua mereka sedang tenang di rumah. Tiba-tiba ketenangan itu terusik bagaikan petir yang menggelegar di waktu dhuha yang sejuk. Tanpa ada kabar angin, dengan sangat berat dan pahit mereka hanya bisa menelan ludah mereka mendengarkan penyampaian-penyampaian bijak dari para ustadz. Nampak pada wajah mereka kesedihan yang mendalam, pandangan mereka adakalanya menjadi pandangan penuh murka dan adakalanya pandangan mereka menjadi kosong.

Harapan mereka pupus sudah….
Dunia ini serasa pecah….
Kebahagiaan sirna sudah….
Remuk terasa tulang-tulang mereka….
Waktu siang mereka gunakan untuk mencari nafkah keluarga…
Waktu malam mereka gunakan untuk berfikir….
Bagaimana waktu esok kita masih bisa belajar di pesantren….
Lenyap sudah segala asa…
Apalah artinya siang malam yang telah mereka lalui selama ini,
Jika harus berakhir di tengah jalan seperti ini…
Akhiy... Ukhtiy... yang semoga dirahmati oleh Allah….
Lihatlah diri anda dan cobalah anda merenungi perbuatan-perbuatan anda. Sudahkan anda menjalankan tugas-tugas anda selayaknya seorang santri pesantren. Sudahkah anda menjalani kesederhanaan yang dituntut kepada diri anda untuk mengerjakannya..? Atau anda justru tenggelam pada hidup yang penuh dengan kemewahan...? Anda gunakan tetesan-tetesan keringat orang tua anda untuk memuaskan nafsu semata, sudahkah hati anda diperbudak oleh dunia mode..? Sehingga anda menjadi santri yang Gila Mode… Gila Style…?

Tanyakan kembali kepada diri anda…?
Sudah berapa ayat dari Al-Qur’an yang anda baca selama sekian waktu bahkan sekian tahun berada di pesantren? Sudahkan anda beribadah dengan baik kepada Allah dengan cara-cara ibadah yang dijarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam..?
Berapa kali lisan anda dengan tulusnya melantunkan bait-bait doa untuk kedua orang tua anda, “Rabbighfir liy waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa rabbayaaniy shaghiyraa” dan sudahkan hati-hati anda bergetar karenanya...? “Ya Allah…, ampunilah dosa-dosa dan berbagai kesalahanku… juga dosa-dosa dan berbagai kesalahan yang telah dilakukan oleh kedua orang tuaku…, sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka telah memeliharaku, membesarkanku serta mendidikku dengan penuh kasih sayang ketika aku kecil…”
Untuk akhi..ukhti yang menangis di sana....
Jangan Ragu Menangis
Menangislh  tumpahkan segala perasaan sedih, marah dan rindu kepada mereka. Setiap orang berhak untuk menangis karena memang tak ada larangan untuk menangis. Namun perlu diperhatikan cara dan waktu kita menangis. Jangan menangis disaat kegiatan pesantren berlangsung karena itu akan mengganggu fokus kita dan bisa jadi mengganggu santri yang lain. Saat yang paling tepat untuk menangis adalah saat sedang bersama teman yang bisa diajak berbagi dan saat kita bermunajat dan berdoa pada Allah

BERSABARLAH....
Ya ALLAH Ya Rabb, banyak langkah dan beragam cara yang Engkau berikan untuk menegur Hamba Mu, dan yang paling ku syukuri Engkau menegur ku dengan cara yang baik dan sesuai denga harapanku ya Allah hari ini, hamba memiliki "Azam" atau kemauan yang kuat untuk untuk menuntut ilmu di pesantren ini :

0 comments:

Post a Comment