Friday, September 2, 2016

Senandung Cinta Dalam Pesantren Mursyid Hasan




Malam, kian terasa sunyi, hanya terdengar suara bising dari pojok-pojok kamar pesanren putra. Di sekeliling asrama putra terlihat berbagai aktifitas, di pojok kanan terlihat segerombol santri yang masih menikmati indahnya hafalan, di pojok lain ada yang ngerumpi
Malam semakin sunyi, semua santri telah kembali ke dalam mimpi masing-masing. Hingga terdengar suara bel, yang menuntut mereka untuk bangun dan melaksanakan sholat subuh, kemudian mengaji kitab tafsir jalalain. Sungguh tak disangka, pada saat menggaji kitab, banyak santri yang khusuk mendngarkan dan nyasak kitab bahkan tak sedikit pula yang mengantuk, tapi itulah salah satu kenikmatan yang perlu kita syukuri.
Pagi, datang menyapa embun pagi dalam daun yang penuh kesejukan. Semua terasa indah, saat sayap-sayap burung terlihat terbang bebas di atas sana. Gerbang pesantren dibuka, semua santri putra dan putri bergegas meninggalkan pesantren untuk melangkah bersama menuju sekolah. Saat mengikuti pelajaran, semua murid tampak tawadhu. Namun tak seperti hatiku (mursyid hasan remaja berumur 20 tahun , salah satu santri putra pesantren ali Imron, yang diasuh oleh KH Syaifulloh  Semua terasa hampa, saat aku mulai hari-hari di pesantren hingga saat ini aku masih terbayang-bayang akan keluargaku. Ayah, Ibu, Mursyid rindu kalian semua. Tapi, tak mungkin bila aku kembali ke rumah, sama saja aku menggecewakan kedua orangtuaku. Aku memang harus bangkit dan lupakan kesenagan semu, bersusah dahulu dan nanti akan kupetik sebuah makna yang terindah. Ayah, Ibu, Mursyid bisa kalian bangakan.
“Mursyid,” wahyu, temen dekatku yang juga salah satu santri pesantren.
“kenapa kamu selalu melamun? Sudahlah Mursyid, tidak hanya kamu yang merasakan rasa ini, semua santri baru juga begitu, begitu juga dengan aku. Tapi ini adalah hidup yang harus kita tempuh dengan ikhlas. Mursyid aku yakin kamu pasti bisa, aku siap jadi orang yang selalu mendengar keluh kesahmu.”
“Makasih Yu, aku janji akan betah disini, dan bersama-sama berjuang demi cita-cita kita”.
Kata-kata wahyu benar-benar meyakinkanku dan memperkuat semanggatku. Tak terasa sudah dua minggu aku di pesantren, banyak kisah dan ilmu yang aku dapat. Ternyata menyenangkan hidup sederhana, makan apa adanya, kebersamaan tanpa pamrih, sungguh semua ini tak bisa aku rasakan jika aku di rumah.
Matahari seakan terasa di ujung kepala, saatnya pulang sekolah. Semua murid berjalan teratur,. Sesampainya di pesantren, aku langsung berganti baju dan bersiap-siap untuk melakukan sholat dan ngaji kitab. Namun ada santri yang datang ke kamar dan memanggilku.
“Mursyid, kamu tadi dipanggil sama Nyai, amanat beliau setelah pulang sekolah, kamu disuruh menghadap beliau”
“ada apa ya?, aku takut”
“udahlah Mursyid, jangan takut kamu ngak ada masalah sama Nyai kan, ayo aku antar”
Aku pun berjalan menuju ndalemnya Nyai bersama Abdi Dalem, salah satu santri kepercayaan Nyai. Langkah kaki ini terhenti, dalem umi semakin dekat dan kini telah sampai. Jantungku semakin deg-degan. “huft, bismillah”
“Assalanmualaikum, Nyai.,”
“Waalaikumsallam..”
Pintu kamar terbuka dan mulai Nampak sosok ibu Nyai yang sangat cantik, bijaksana, dan lemah lembut,sebut saja Nyai Bunga isteri dari KH Syaifullah , yang dikaruniani tiga orang putri. Diantaranya ,Neng Adinda,Neng Ajeng, yang satu kurang ku kenal, karena berada di pesantren buduran Sidoarjo
“Ini Nyai,  Mursyid yang tadi pagi Nyai cari”.
“Oh, iya, silahkan duduk nak”
Akupun duduk iftiros tanda tawadlu’ pada Nyai, dan Abdi Dalem yang mengantarkan aku diminta meninggalkan aku.
“begini nak, tadi pagi Ibumu telfon , kamu disuruh pulang, untuk menghadiri acara pernikahan saudara kamu. aku mengijinkan, tapi Cuma dua hari saja.”
Aku hanya bisa menggangguk, dan tersenyum bahagia. Yang kunanti-nanti kini datang juga. Aku  berpamitan sama nyai.
Ahamdulillah ahirnya aku pulang....
Sesampai di kamar ku tata semua barang-barang yang akan aku bawa pulang. Kemudian tak lupa pamitan sama wahyu dan  teman-teman lainnya. Menuju ke dunia luar, serasa indah kembali ku naiki honda yang mengantarku ke terminal.
Beberapa jam kemudian, akhirnya sampai juga. Suasana rumah yang sudah terpenuhi bunga-bunga pengantin, seakan-akan menyambut kedatanganku. Ku langkahkan kaki dengan cepat, dan terhenti tepat di depan rumah.
“Assalamualaikum”
Lama tak ada suara, mungkin karena terlalu ramai sampai tidak ada yang mendengar salamku. Beberapa menit kemudian, tampak bayangan serorang bocah kecil yang mendekati pintu dan menjawab salamku.
“Waalaikumsalam, kak Mursyid”,
Langsung kupeluk bocah kecil itu, dia adalah Izal adik keponakanku  yang pertama. Ku lepas semua kerinduanku, kemudian Izal lari dan memanggil Umiku. Umi pun muncul, ku langsung mencium tangan ibu dan memeluknya, semua yang ada di situ pun meninggalkan pekerjaan mereka dan menemuiku. Rasanya seperti mimpi, tapi ini bukan mimpi ini kenyataan yang jelas-jelas terjadi (dalam batinku)
“Semakin besar saja kamu nak,”
“Betah kan kamu disitu”, Tanya Aba.
“Alhamdulillah, berkat doa dan semangat dari Aba, Umi, dan teman-teman, Mursyid betah kok”
“syukurlah kalau begitu, Aba, Sama Umimu  jadi nggak khawatir lagi”.
Aku pun langsung istirahat, dan membaringkan tubuh di kamar, dan semua kembali ke pekerjaan mereka. Satu malam di rumah, serasa nggak betah, rasanya ingin cepat-cepat kembali ke pesanteren. Meski tidur sepeti korban bencana yang tidur berjejeran dan sesak-sesakkan, tapi terasa indah dan nyaman. Setelah beberapa jam berguling di kasur akhirnya, tertidur juga.
Suara kokok ayam mulai terdenggar, membisingi telingaku yang membuat ku terbangun dari tidurku. Ingin rasanya tidur lagi, tapi tampaknya semua keluarga sudah terbangun dan sudah siap-siap pegi ke Musholla untuk berjamaah.
Seusai jamaah, semua mempersiapkan acara pernikahan Kang Mus, kebetulan acaranya pagi-pagi, dan siangnya aku harus kembali ke pesntren. Acara yang berlangsung meriah pun telah usai tepat pukul 12.00. Seusai sholat dzuhur, aku bersiap-siap berangkat ke pesantren. Aba menggantarku sampai di jalan raya, tanpa menunggu lama Aba meninggalkan ku dan meninggalkan seribu pesan yang harus aku patuhi selama di pesantren. Bus kota menuju ke Malang masih sekitar  10 menit lagi, aku duduk di bangku kosong di bawah pohon yang rindang. Tiba-tiba ada Gadis berkerudung yang aneh yang mendekatiku, dan duduk di sebelahku. Aku semakin takut dan deg-degan.
“Mas kenapa?, apa ada yang aneh ya, apa memang aku yang aneh?”. Tanya Gadis itu.
Aku hanya bisa terdiam, aku binggung harus bilang apa.
“Kenapa Mas diam,Mas merasa terganggu ya, kalau begitu aku pergi saja Mas,”
“Jangan pergi, tetap disini saja, aku ngak merasa terganggu kok,”
“baiklah, anggap saja kita teman lama, jadi santai saja Mas, tak usah gelisah begitu”
“kenapa Mbak bicara seperti itu, bukankah kita tak penah bertemu, bagaimana bisa kita jadi teman lama”
“Aduh, Mas ini nggak meresapi apa yang saya bicarakan ya, itu hanya sebuah anggapan, agar Mas tidak merasa canggung bila di sebelah saya”.
Aku merasa malu, aku hanya bisa tersenyum sambil menahan rasa malu.
“Mas, mau kemana?”
“Gondanglegi”.
Tanpa sadar aku menggulurkan tangganku, dan menyebut namaku. Tapi tak ada balasan darinya.
“kenapa Mbak tidak mau membalas perkenalanku, bukankan tadi Mbak bilang kalau kita berpura-pura jadi teman lama, apa salah ya jika kita mengenal lebih dekat, meskipun hanya nama. Siapa tau suatu hari nanti kita akan bertemu, dan kita bisa saling menyapa”.
“Apa arti sebuah nama dan pertemuan, pertemuan pertama akan mengisahkan sebuah rasa penasaran, pertemuan kedua akan mengisahkan sebuah rasa rindu, dan aku tak mau merindu, karena rindu itu sangat menyakitkan.”
“kenapa Mbak bicara seperti itu, bukankah sekarang dunia itu seakan sempit”
Belum sempat menjawab pertanyaanku, Bus yang menuju ke Gondanglegi datang, saat ku menengok ke belakang Gadis itu sudah hilang dari pandanganku, hanya tertinggal buku memory yang ia tinggal di bangku tadi. Ku ambil dan ku baca, ternyata baru terisi satu lembar yang isinya:
Aku terpesona
Pada seorang laki-laki yang berkopyah putih, yang duduk di sampingku
Matanya yang indah, alisnya yang tebal,
Aroma wanginya yang menggetarkan hatiku
Terlebih lagi balutan baju hem warna putih serasi dengan celananya
Yang telah membalut mahkotanya
Membuatnya semakin gagah
Hati siapa yang tak tergoyahkan akan ketampanan hati dan jiwanya
Sungguh aku telah terpana olehnya
sebuah ungkapan rasa yang seketika terjadi, ku baca tulisan itu sepanjang perjalananku, hingga hati ini terluluhkan, dan merindukan sosok Gadis misterius tadi.
Bus berhenti, dan aku langsung berjalan menuju pesantren yang tak jauh dari terminal. Sesampai di pesantren aku langsung menuju ke kamar, kemudian langsung sowan ke Nyai agar Nyai nggak khawatir dan aku nggak di takzir. Seusai sowan di ndalem Nyai, aku berpapasan dengan wahyu, nampaknya dia begitu terburu-buru.
“mau kemana Yu?, kok buru-buru gitu”.
“tadi ada pengumuman, katanya putrinya Nyai Bunga hari ini pulang dari Pesantren dan seluruh santri ikut menyambut kedatangannya”
“oh, tak kira ada apa-apa, aku nggak ikut nggak papa kan, soalnya ku capek banget”.
“ya ya, kamu istirhat aja di kamar”.
“ok”.
Aku pun langsung bergegas ke kamar dan pergi menyambut kedatangan Neng Anastasia,  putri pertama Nyai, yang umurnya masih di bawah umurku . Saat aku sendiri di kamar aku teringat akan gadis itu, memandang tulisanya seakan ku benar-benar dekat dengannya. Apakah ini yang dinamakan cinta, ataukah rasa rindu yang menyesakkan hati dan menghipnotis fikiranku, ah entahlah. Dari pada aku bingung dengan hatiku sendiri, aku memutuskan menyusul Ayas. Ternyata, yang mereka nanti belum datang juga, dan aku kembali ke kamar.
Beberapa jam kemudian, semua santri kembali begitu juga dengan wahyu
“Gimana Yu, dah ketemu sama Neng Anastasia?”
“udah donk, tambah Cantik aja beliau”.
“eh, eh, inget , kamu kan dah punya Nabila”.
“ya, aku tau Mursyid, nggak mungkin juga seorang Neng jatuh cinta sama aku, dan cintaku juga hanya untuk Dek Nabila Seorang,”.
“cie cie, yang lagi kasmaran”.
“la, kamu sendiri gimana Mursyid”.
“belum saatnya ku certain sama kamu, he he, udahlah aku mau ke toko dulu, mau beli peralatan mandi”.
“aku temenin ya”.
“gitu juga boleh”.
Kami berjalan menuju toko deket gerbang pesantrenku, di tengah perjalanan aku bertemu sosok Gadis yang pernah menemui ku waktu mau pulang ke pesantren, aku berhenti sejenak dan melamun. Apakah ini mimpi? Tapi rasa ini ada.
“Mursyid, ayo cepet, wah terpesona juga ya sama neng anastasia”
“apa dia Neng Anastsia, putrinya Nyai?”
“ya, Mursyid salah kamu sih tadi ngak ikut menyambutnya”
Rasa ini semakin hilang, ketika ku tau bahwa dia adalah seorang Neng, hatiku semakin gundah dan tak tau harus berbuat apa.
Setelah belanja di toko wahyu  bertemu Sani dan mereka berbincang-bincang. Akhirnya ku harus rela pulang sendiri, dan di tenggah perjalanan aku berpapasan dengan Neng Anastasia.
“Assalamualaikum Mas, tak kusangka ternyata Allah mempertemukan kita kembali”
“Waalaikumsalam, ya alhmdulillah, seperti yang ku katakan dunia sekarang itu seakan sempit”.
“kamu kenapa, wajahmu pucat seakan-akan kamu ingin menghindar dariku, apakah pertemuan ini mengganggu mu”
“sungguh, bukan begitu, tapi aku harus kembali ke pesanteren, soalnya sebentar lagi ada ngaji kitab fathil qorib”.
“oh, ya maaf saya lupa, sampai ketemu nanti”
Kita pun berpisah, dengan rasa gundah bercampur rindu aku meninggalkanya. Lalu berangkat ngaji  lagi yang mengajar adalah Abinya neng Anastasia. Semakin tegang rasanya, badanku serasa masuk dalam almari es yang begitu dingin.
Telah lama ku pendam rasa rindu ini
Hingga kini telah terobati
Akan sang mentari yang hadir dalam hidup ini
Tuhan, entah apa maksud Mu
Kau pertemukan kami lagi
Dalam ruang rindu yang berisikan cinta
Apakah ini takdir Mu, tuk jadikan kami yang halal untuk Mu
Ataukah hanya sekedar pertemuan
Yang berakhir semu
Semua yang terjadi seperti mimpi, dua hati yang baru bertemu kini kian menjadi satu. Perasaan yang sama namun, kian sulit tuk di padu karena sesuatu. Dan hanya takdir sang izzati Robillah yang dapat menjawab kegelisahan ini. Semua yang terjadi ku ceritakan pada wahyu, dan dia memberikan solusi yang terbaik. Dan aku harus memilih mana yang baik dan yang tak baik.
Pagi menyapa ku dengan indah, hari minggu yang menyenangkan meski hati dilanda kegelisahan yang tak menentu. Aku duduk di samping teras dalem kyai sambil menikmati udara pagi dan  membaca nadlom. Tanpa kusadari, ternyata Neng Anastasia  menghampiriku. Tak tau apa yang ia bicarakan, sebuah ungkapan hati yang begitu tulus dan ikhlas.
“Mursyid, setelah lama aku pendam rasa ini, dan tanpa tak sengaja aku mengunggkapkan rasa yang tak pantas aku ucapkan kepadamu, karena sepertinya semua yang aku ucapkan mengganggu hidup kamu”
“Tak seperti itu Neng, aku hanya takut dan bingung apakah pantas. Pemuda seperti aku ini bersanding dengan seorang Neng pemilik pesanteren yang sekarang aku tempati”
“Percayalah, Mursyid aku mencintaimu ikhlas dari hati dan atas ridho Nya, dan aku tak peduli siapa aku dan kamu, bagiku semua sama tak ada yang berbeda, aku pun sudah bicara dengan Umi dan abah. Mereka tak melarangku untuk berdampingan dengan siapapun, jadi maukah kau menjadi pendamping hidup ku nanti”
Aku semakin binggung, dan harus menjawab apa,
“kamu diam, berarti kamu setuju, karena diamnya seorang pemuda menandakan kalau dia setuju,” Kata Neng Anastasia, sambil tersenyum
“hahaha bukannya ungkapan itu untuk gadis yang mau di pinang”sahutku
“haaha Gak papa besok aku akan kembali ke pesantren. Aku janji, aku akan cepat menyelesaikan program s2 ku dengan cepat dan akan kembali ke sini untuk mencintaimu lagi hehe,”
“Dan aku pun kan berjanji, sebelum Neng Anastasia kembali ke sini, aku akan menghatamkan al-quran.
Suasana haru, yang begitu menyedihkan. Ungkapan rasa yang baru saja terucap kini harus berakhir dengan perpisahan.
Setelah Neng Anastasia meninggalkan pesantren yang aku tempati, Aku pun semakin giat belajar dan menghatamkan alquran. Hingga beberapa tahun kemudian Aku diwisuda sekaligus mendapat gelah Sarjana S1 Setelah selesai wisuda Mursyid pulang ke rumah bersama orang tuanya. Mursyid dan kedua orangtuanya terkejut dengan kedatangan pak yai dan bu nyai ke rumah. Ternyata mereka datang bersama neng Anastasia, untuk menanyakan kapan mursyid melamar Neng Ana,. Mursyid ahirnya menempati janjinya begitupula dengan Neng Anastasia. Hingga akhirnya mereka menikah dan mendirikan sebuah pesantren yang mereka beri nama “Pon-Pes Putra Putri Al-Mursyidi

0 comments:

Post a Comment