Wednesday, November 16, 2016

makalah tentang OBJEK DAN FUNGSI FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM



OBJEK DAN FUNGSI FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah studi:
 filsafat pendidikan islam


Dosen Pembimbing:
.
Drs. Jazari, M. HI


Oleh :
Huda
Adib
Sunardi
Uswatun
Hurul A’in




                        PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
INSTITUT AGAMA ISLAM (IAI) AL-QOLAM
MALANG
2016
 






BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah pemberi corak hitam putihnya perjalanan hidup seseorang. Kedudukan ini secara tidak langsung telah menempatkan pendidikan sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan hidup dan kehidupan umat manusia. Dalam hal ini Dewey berpendapat bahwa pendidikan sebagai salah satu kebutuhan hidup (a necessity of life), salah satu fungsi sosial (a social function), sebagai pembimbing (as direction) dan sebagai sarana pertumbuhan (as means growth) yang mempersiapkan dan membukakan serta membentuk disiplin melalui transmisi yang baik dalam bentuk formal, informal dan non formal.[1][
 Pemikiran dan kajian tentang pendidikan tersebut dilakukan oleh para ahli dalam berbagai sudut ditinjau dari disiplin ilmu seperti ilmu agama, filsafat, sosiologi, ekonomi, politik, sejarah dan antropologi. Dari sudut itulah yang menyebabkan lahirnya cabang ilmu pengetahuan kependidikan yang berpangkal dari sudut tinjauannya yaitu pendidikan agama, filsafat pendidikan, sosiologi pendidikan, sejarah pendidikan, ekonomi pendidikan dan politik pendidikan. Upaya untuk memperbaiki kondisi kependidikan itu tampaknya perlu dilacak pada akar permasalahannya yang bertumpu pada pemikiran filosofis. Diketahui bahwa secara umum filsafat berupaya menjelaskan inti atau hakikat dari segala sesuatu yang ada dan karenanya ia menjadi induk segala ilmu.
Sejarah filsafat sangat kaya dengan ide-ide mengenai pendidikan. Ide-ide yang tercetus pada masa lampau dan hanya berlaku pada masa lampau juga. Tetapi ada kalanya ide-ide atau gagasan-gagasan itu masih bisa dipergunakan sebagai pegangan di masa sekarang. Sudah tentu ada gagasan yang tercetus di masa sekarang dan menjadi pegangan pada waktu yang ini pula. 
Dapat ditarakan dengan jelas bahwa sistem filsafat menurut Plato dan tokoh-tokoh yang lain dapat dijadikan sebagai dasar terbentuknya suatu filsafat pendidikan. Di sisi lain, cabang-cabang sistem filsafat mendasari berbagai pemikiran mengenai pendidikan. Contoh yang bisa diambil misalnya metafisika. Karena tinjauannya yang mendalam mengenai hal-hal di balik dunia fisik, memberikan dasar-dasar pemikiran cita-cita pendidikan. Epistimologi memberikan landasan pemikiran mengenai kurikulum, aksiologi mengenai masalah nilai dan kesusilaan, sedangkan logika memberikan landasan pikiran mengenai pengembangan pendidikan kecerdasan.[2]
Karena itulah kedudukan filsafat sangat berhubungan dengan ilmu-ilmu yang lain. Jika dikatakan bahwa filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu yang ada dan sebagai suatu ilmu yang menyelidiki hakekat pengetahuan manusia maka seluruh ilmu lain harus mempunyai hubungan struktural dan fungsional dalam filsafat.
Dunia pendidikan Islam di Indonesia khususnya,dan dunia Islam pada umumnya masih dihadapkan pada berbagai persoalan mulai dari soal rumusan tujuan pendidikan yang kurang sejalan dengan tuntutan masyarakat, sampai kepada persoalan guru metode, kurikulum dan sebagainya. Upaya untuk mengatasi masalah tersebut masih terus dilakukan dengan berbagai upaya. Penataran guru, pelatiahn tenaga pengelola pendidikan dan lain sebagainya harus dilakukan, namun masalah pendidikan terus bermunculan.
Upaya untuk memperbaiki kondisi kependidikan yang demikian itu perlu dilacak pada akar permasalahannya yang bertumpu pada pemikiran filosofis. Filsafat pendidikan islsm secara umum akan mengkaji berbagai masalah yang terdapat dalam bidang pendidikan, mulai dari visi misi, dan tujuan pendidikan, dasar-dasar dan asas-asas pendidikan Islam, konsep manusia, guru, anak didik, kurikulum, dan metode sampai dengan evaluasi dalam pendidikan secara filosofis. Dengan kata lain, ilmu ini akan mencoba mempergunakan jasa pemikiran. Kenyataan menunjukan adanya kiblat-kiblat pendidikan Islam yang belum jelas
Pendidikan islam masih belum menemukan format dan bentuknya yang khas sesuai dengan agama islam hal ini selain karena banyaknya konsep pendidikan yang ditawarkan para ahli yang belum jelas keislamannya, juga karena belum banyak pakar pendidikan Islam yang merancang pendidikan Islam secara seksama.
       B.       Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan diangkat dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1)      Apa saja objek kajian filsafat pendidikan Islam?
2)      Apakah fungsidari filsafat pendidikan Islam?








BAB II
PEMBAHASAN
A.    Objek Kajian Filsafat Pendidikan Islam
Penjelasan mengenai ruang lingkup ini mengandung indikasi bahwa filsafat pendidikan Islam telah diakui sebagai sebuah disiplin ilmu. Hal ini dapat dilihat dari adanya beberapa sumber bacaan, khususnya buku yang menginformasikan hasil penelitian tentang filsafat pendidikan Islam.
 Sebagai sebuah disiplin ilmu, mau tidak mau filsafat pendidikan Islam harus menunjukkan dengan jelas mengenai bidang kajiannya atau cakupan pembahasannya. Muzayyin Arifin menyatakan bahwa mempelajari filsafat pendidikan Islam berarti memasuki arena pemikiran yang mendasar, sistematik. Logis, dan menyeluruh (universal) tentang pendidikan, ysng tidak hanya dilatarbelakangi oleh pengetahuan agama Islam saja, melainkan menuntut kita untuk mempelajari ilmu-ilmu lain yang relevan. Pendapat ini memberi petunjuk bahwa ruang lingkup filsafat Pendidikan Islam adalah masalah-masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan, seperti masalah tujuan pendidikan, masalah guru, kurikulum, metode, dan lingkungan[3].
Dalam rangka menggali, menyusun, dan mengembangkan pemikiran kefilsafatan tentang pendidikan terutama pendidikan Islam, maka perlu diikuti pola dan pemikiran kefilsafatanpadaumumnya.
Adapun pola dan sistem pemikiran kefilsafatan sebagai suatu ilmu adalah:
a.         Pemikiran kefilsafatan harus bersifat sistematis, dalam arti cara berfikirnya bersifat logis dan rasional tentang hakikat permasalahan yang dihadapi. Hasil pemikirannya tersusun secara sistematis artinya satu bagian dengan bagian lainnya saling berhubungan.
b.        Tinjauan terhadap permasalahan yang dipikirkan bersifat radikal artinya menyangkut persoalan yang mendasar sampai keakar-akarnya.
c.         Ruang lingkup pemikirannya bersifat universal, artinya persoalan-persoalan yang dipikirkan mencakup hal-hal yang menyeluruh dan mengandung generalisasi bagi semua jenis dan tingkat kenyataan yang ada di alam ini, termasuk kehidupan umat manusia, baik pada masa sekarang maupun masa mendatang.
d.        Meskipun pemikiran yang dilakukan lebih bersifat spekulatif, artinya pemikiran-pemikiran yang tidak didasari dengan pembuktian-pembuktian empiris atau eksperimental (seperti dalam ilmu alam), akan tetapi mengandung nilai-nilai obyektif. Dimaksud dengan nilai obyektif oleh permasalahannya adalah suatu realitas (kenyataan) yang ada pada obyek yang dipikirkannya.
Pola dan sistem berpikir filosofis demikian dilaksanakan dalam ruang lingkup yang menyangkut bidang-bidang sebagai berikut:
a.         Cosmologi yaitu suatu pemikiran dalam permasalahan yang berhubungan dengan alam semesta, ruang dan waktu, kenyataan hidup manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan, serta proses kejadian kejadian dan perkembangan hidup manusia di alam nyata dan sebagainya.
b.        Ontologi yaitu suatu pemikiran tentang asal-usul kejadian alam semesta, dari mana dan kearah mana proses kejadiannya. Pemikiran ontologis akhirnya akan menentukan suatu kekuatan yang menciptakan alam semesta ini, apakah pencipta itu satu zat (monisme) ataukah dua zat (dualisme) atau banyak zat (pluralisme). Dan apakah kekuatan penciptaan alam semesta ini bersifat kebendaan, maka paham ini disebut materialisme.
Secara makro (umum) apa yang menjadi obyek pemikiran filsafat, yaitu dalam ruang lingkup yang menjangkau permasalahan kehidupan manusia, alam semesta dan sekitarnya adalah juga obyek pemikiran filsafat pendidikan. Tetapi secara mikro (khusus) yang menjadi obyek filsafat pendidikan meliputi:
a.         Merumuskan secara tegas sifat hakikat pendidikan (The Nature of Education).
b.        Merumuskan sifat hakikat manusia sebagai subyek dan obyek pendidikan (The Nature Of Man).
c.         Merumuskan secara tegas hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, agama dan kebudayaan.
d.        Merumuskan hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan dan teori pendidikan.
e.         Merumuskan hubungan antara filsafat negara (ideologi), filsafat pendidikan dan politik pendidikan (sistem pendidikan).
f.         Merumuskan sistem nilai norma atau isi moral pendidikan yang merupakan tujuan pendidikan.
Filsafat merupakan lapangan berpikir manusia tentang hakikat sesuatu, sementara pendidikan merupakan proses yang mengubah individu untuk menjadi manusia yang lebih baik, cerdas, bertingkah laku baik dann berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Filsafat pendidikan merupakan aktivitas berpikir sistematis yang menggunakan filsafat sebagai sarananya untuk mengorganisasi dan mengkoordinasi proses pendidikan serta memperjelas nilai-nilai dan tujuan-tujuan yang akan direalisasikan.

Teori filsafat pendidikan Islam bisa dibangun dari tujuan analisis kritis terhadap konsep-konsep pendidikan universal atau teori-teori filsafat pendidikan Islam yang dikemukakan oleh para ahli filsafat pendidikan Islam pada umumnya hanya bersumber pada fenomena kauniyahsaja. Hasil analisis tersebut kemudian dikonsultasikan pada fenomena qauliyahuntuk dijadikan sebagai pondasi filosofis pelaksanaan pendidikan Islam.
Melihat peranan filsafat yang begitu penting bagi kehidupan umat manusia, maka pendidikan perlu disajikan secara filosofis. Tabiat anusia, tujuan pendidikan, norma-norma serta nilai-nilai kependidikan dan sosial merupakan topik-topik kefilsafatan yang dikaji dalam perspektif pendidikan. Ada asumsi yang menyatakan bahwa tugas filsafat pendidikan Islam adalah mendefinisikan apa yang seharusnya dilakukan oleh pendidikan.
 Namun tanpa mau bersusah payah, orang seringkali hanya mengungkap fenomena secara aktual sering terjadi di dunia pendidikan untuk membangun filsafat pendidikan. Demikian pula kekuatan-kekuatan sosial yang berpengaruh terhadapnya serta berbagai proses terkait dengan segala sesuatu yang mengubah individu dari sekedar organisasi biologis menjadi makhluk sosial yang insani.
Filsafat pendidikan Islam sebagai suatu bagian atau komponen dari suatu sistem, filsafat pendidikan Islam memegang dan mempunyai peranan tertentu pada sistem di mana filsafat pendidikan Islam merupakan bagiannya. Sebagai cabang ilmu pengetahuan, maka filsafat pendidikan Islam berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang menjadi induknya. 
Filsafat pendidikan Islam, sebagai bagian dari filsafat Islam, dan sekaligus juga sebagai bagian dari ilmu pendidikan. Dengan demikian filsafat pendidikan Islam berkembang juga dalam mengembangkan filsafat Islam serta memperkaya filsafat Islam dengan konsep-konsep  dan pandangan-pandangan filosofis dalam kependidikan.
Secara praktis (dalam prakteknya), filsafat pendidikan Islam banyak berperan penting dalam memberikan alternatif-alternatif pemecahan berbagai masalah yang sedang dihadapi oleh pendidikan Islam. Peranan yang diberikan oleh filsafat pendidikan Islam terhadap perkembangan pendidikan Islam adalah:
a.         Filsafat pendidikan Islam menunjukkan masalah yang dihadapi oleh pendidikan Islam, sebagai hasil dari pemikiran yang mendalam dan berusaha untuk memahami duduk masalahnya. Dengan analisis filsafat, maka filsafat pendidikan Islam akan menunjukkan alternatif-alternatif pemecahan masalah tersebut.
b.        Filsafat pendidikan Islam memberikan pandangan tertentu tentang manusia (sebagai obyek pendidikan). Pandangan tentang hakikat manusia yang sangat berkaitan dengan tujuan hidup manusia dan sekaligus juga merupakan tujuan pendidikan Islam.  Filsafat pendidikan Islam bertujuan menjabarkan tujuan umum pendidikan Islam tersebut dalam bentuk-bentuk tujuan khusus yang operasional. Dan tujuan yang operasioanal ini akan berperan untuk mengarahkan secara nyata gerak aktifitas pelaksanaan pendidikan.
c.         Filsafat pendidikan Islam dengan analisisnya terhadap hakikat hidup dan kehidupan manusia, berkesimpulan bahwa manusia mempunyai potensi pembawaan yang harus ditumbuhkan dan dikembangkan. Filsafat pendidikan Islam menunjukkan bahwa potensi pembawaan manusia itu tidak lain adalah sifat-sifat Tuhan atau Asmaul Husna, dan dalam mengembagkan sifat-sifat tersebut  tidak boleh mengarah kepada menodai dan merendahkan nama dan sifat Tuhan tersebut. Hal ini akan memberikan petunjuk pembinaan kurikulum sesuai dan pengaturan lingkungan yang diperlukan.
d.        Filsafat pendidikan Islam dalam analisisinya terhadap masalah pendidikan masa kini yang sedang dihadapi, akan dapat memberikan informasi apakah proses pendidikan yang berjalan selama ini mampu mencapai tujuan pendidikan Islam atau belum.[4]
Dari penjelasan di atas, maka dapat dijelaskan bahwa filsafat pendidikan Islam menyumbangkan analisanya kepada ilmu pendidikan Islam tentang hakikat masalah yang nyata dan rasional yang mengandung nilai-nilai dasar yang dijadikan landasan atau petunjuk dalam proses kependidikan.
Tugas filsafat adalah melaksanakan pemikiran rasional analisis dan teoritis (bahkan spekulatif) secara mendalam dan mendasar melalui proses pemikiran yang sistematis, logis, dan radikal (sampai keakar-akarnya), tentang problema hidup dan kehidupan manusia. Produk pemikirannya merupakan pandangan dasar yang berintikan kepada “trichotomi” (tiga kekuatan rohani pokok) yang berkembang dalam pusat kemanusiaan manusia (natropologi centra) yang meliputi:
a.         Induvidualisme.
b.        Sosialitas.
c.         Moralitas.
Ketiga kemampuan tersebut berkembang dalam pola hubungan tiga arah yang kita namakan “trilogi hubungan” yaitu:
a.         Hubungan dengan Tuhan, karena ia sebagai makhluk ciptaan-Nya.
b.        Hubungan dengan masyarakat karena ia sebagai masyarakat.
c.         Hubungan dengan alam sekitar karena ia makhluk Allah yang harus mengelola, mengatur, memanfaatkan kekayaan alam sekitar yang terdapat diatas, di bawah dan di dalam perut bumi ini
B.     Fungsi Filsafat
Istilah filsafat berasal dari bahasa asalnya Yunani Kuno adalah cinta akan kebenaran atau hikmah. Adapun pengertian secara umum adalah bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatakannya. Oleh karena itu filosof adalah orang yang mencintai hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian kepadanya dan menciptakan sikap positif terhadapnya. Selain itu mencari hakikat sesuatu, berusaha menghubungkan sebab dan akibat berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. Filosof pendidikan dan juga filosof umum telah berusaha mencari hak dan hakikatnya serta persoalan yang berkaitan dengan proses pendidikan. 
Jadi filsafat pendidikan adalah pelaksanan pandangan filsafat dan kaidahnya dalam bidang pendidikan. Filsafat pendidikan Islam terbentuk dari perkataan filsafat, pendidikan dan Islam. Penambahan kata Islam di akhir gabungan kata tersebut dimaksudkan untuk membedakan filsafat pendidikan Islam dari pengertian yang terkandung dalam filsafat pendidikan secara umum.
Dengan demikian filsafat pendidikan Islam mempunyai pengertian khusus yang ada kaitannya dengan ajaran Islam. Secara teori umum mengenai sistem pendidikan, maka filsafat pendidikan Islam berfungsi sebagai peletak dasar bagi kerangka dari sistem pendidikan yang akan berfungsi cara untuk mengaplikasikan ajaran Islam di bidang pendidikan, dengan tujuan yang identik dengan tujuan yang akan dicapai oleh ajaran Islam itu sendiri. Sebaliknya, jika pendidikan merupakan proses pelaksana mencapai tujuan, maka filsafat pendidikan Islam berfungsi sebagai pedoman dasar dari sistem yang harus ditelusuri oleh proses pelaksanaan itu sendiri. 
Filsafat pendidikan Islam dengan demikian berfungsi sebagai pembentuk nilai-nilai bagi pendidikan Islam. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka filsafat pendidikan Islam berusaha meletakkan dasar pemikirannya pada tujuan yang memuat konsep mengenai akhlak yang mulia. Dua dasar pokok yang juga termuat dalam tujan filsafat pendidikan Islam adalah meletakkan dasar pemikiran sistem pendidikan yang berdimensi ganda. Dimensi pertama adalah untuk mencapai kesejahteraan hidup di dunia dan kebahagian hidup di akherat. Dimensi kedua berhubungan dengan fitrah kejadian manusia yakni sebagai hamba Allah yang setia.
Adapun fungsi filsafat pendidikan antara lain: 
  1. Untuk memahami sistem pengajaran 
  2. Menganalisa konsep-konsep dan istilah-istilah 
  3. Untuk mengkritik asumsi-asumsi dan fakta-fakta 
  4. Untuk membimbing asas-asas pendidikan 
  5. Menerima perubahan-perubahan dasar 
  6. Membimbing sikap para guru dan pengajar 
  7. Untuk membangkitkan dialog dan persoalan 
  8. Untuk menghilangkan pertentangan pendidikan 
  9. Mengusulkan rencana-rencana baru. 
Di sinilah dapat dipahami bahwa pembaharuan dan inovasi agar sesuai dengan pendidikan masa depan atau hari esok sebab pendidikan pada dasarnya menyiapkan generasi-generasi untuk masa depan bukan hanya untuk sekarang.























BAB III
KESIMPULAN
Dengan demikian dari uraian tersebut diproleh suatu kesimpulan
1.         Filsafat Pendidikan Islam itu merupakan suatu kajian secara filosofis mengenai masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada al-Qur’an dan al-Hadist sebagai sumber primer, dan pendapat para ahli, khususnya para filosof Muslim, sebagai sumber sekunder.
2.         Objek kajian filsafat pendidikan Islam ialah semua aspek yang berhubungan dengan upaya manusia untuk mengerti dan memahami hakikat pendidikan itu sendiri, yang berhungan dengan bagaimana pelaksanaan pendidikan dan bagaimana tujuan pendidikan itu dapat dicapai seperti yang dicita-citakan, namun kesemuanya harus berlandas-kan al-Qur’an dan Hadits.
3.         Filsafat pendidikan Islam banyak berperan penting dalam memberikan alternatif-alternatif pemecahan berbagai masalah yang sedang dihadapi oleh pendidikan Islam. Selain itu, filsafat pendidikan Islam menyumbangkan analisanya kepada ilmu pendidikan Islam tentang hakikat masalah yang nyata dan rasional yang mengandung nilai-nilai dasar yang dijadikan landasan atau petunjuk dalam proses kependidikan.
4.          Secara teori umum mengenai sistem pendidikan, maka filsafat pendidikan Islam berfungsi sebagai peletak dasar bagi kerangka dari sistem pendidikan yang akan berfungsi cara untuk mengaplikasikan ajaran Islam di bidang pendidikan, dengan tujuan yang identik dengan tujuan yang akan dicapai oleh ajaran Islam itu sendiri. Sebaliknya, jika pendidikan merupakan proses pelaksana mencapai tujuan, maka filsafat pendidikan Islam berfungsi sebagai pedoman dasar dari sistem yang harus ditelusuri oleh proses pelaksanaan itu sendiri. 






[1] Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hal. 1
[2] Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan, (Yogyakarta: Andi Offset, 1986), hal. 5-6
[3] Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1987), hal. 15
[4]Zuhairini, Dkk, Filsafat Pendidikan Islam, Op. Cit., hal. 132

0 comments:

Post a Comment